sumber gambar: http://www.katariau.com/
"Siapa sangka seorang
yang seharusnya mengajarkan kebaikan, kasih sayang serta norma-norma religius
kepada pengikutnya, justru menjadi penebar teror, juga otak dari pembantain
suku Rohingya. Ashin Wirathu namanya, dia seorang biksu Buddha yang
dituding menjadi penyebab pembantaian suku Rohingya hingga
akhirnya mereka ramai-ramai eksodus dari Burma hingga sampai Indonesia."
Biksu Wirathu sangat membenci Muslim Rohingya dengan menyebut
sebagai “anjing gila.” Lantas melancarkan kampanye provokatif
yang menyulut pembantaian, padahal dalam teorinya agama Budha mengajarkan
kedamaian dan kasih sayang?. Pria pencetus gerakan anti-Islam 969. Hal itu
tidak disebutkan Wirathu secara sembunyi-sembunyi tetapi langsung dikatakannya
dalam khutbah yang diliput media internasional, secara terang-terangan ia memproklamirkan
diri sebagai musuh Islam.
SKUAD
969 mengacu pada sembilan atribut Buddha, enam ajaran dasar, dan sembilan
perintah monastik berkaitan dengan spiritual untuk tingkatan mencapai nirwana.
Salah satu tugas mereka menghancurkan kekuatan asing yang ingin membinasakan
Buddhisme dan kekuatan asing itu Islam.
Catatan hitam Wirathu mencuat sejak tahun 2001. Waktu itu ia
menghasut kaum Budha untuk membenci muslim. Hasilnya, kerusuhan anti-Muslim
pecah pada tahun 2003. Wirathu sempat mendekam di penjara. Namun ia dibebaskan
tepatnya pada tahun 2010 atas amnesti-amnesti yang juga diberikan untuk ratusan
tahanan politik.
Wirathu kini menjabat sebagai kepala di Biara Masoeyein
Mandalay. Di kompleks luas itu Wirathu memimpin puluhan biksu dan memiliki
pengaruh atas lebih dari 2.500 umat Budha di daerah tersebut. Dari basis
kekuatannya itulah Wirathu memimpin gerakan anti-Islam “969”.
Ashin Wirathu menyakini
ada konspirasi besar mengubah Burma menjadi negara Islam. Atas dasar inilah dia
membentuk kelompok bernama SKUAD 969 yang melancarkan serangan-serangan
seporadis pada kaum muslim, termasuk benda-benda kepemilikan mereka bahkan
rumah ibadah. Puluhan masjid menjadi puing di tangan SKUAD 969.
Entah sejak kapan Wirathu mendengungkan kampanye. Namun kampanye
provokatif itu mulai meluas pada awal 2013. Ia berpidato di berbagai tempat,
menyalakan kebencian kaum Budha atas umat muslim. Selain melalui pidato,
gerakan 969 juga menyebar dengan cepat melalui stiker, brosur dan sebagainya.
Kebencian dan anti-Islam meluas dengan cepat, berbuah pembantaian dan
pengusiran Muslim Rohingya.
Ribuan muslim Rohingya dilaporkan terbunuh dalam pembantaian
selama beberapa tahun terakhir. Sisanya bertahan hidup dengan keterbatasan dan
ketertindasan. Ratusan orang mencoba pergi menyelamatkan diri, hingga pekan
lalu sampai di Aceh setelah mengarungi laut lepas dengan kapal sederhana.
Islam memang tumbuh cepat di Myanmar, hingga 2014 sekitar 35
persen penduduk negara ini berpindah keyakinan menjadi muslim. Di tahun
sebelumnya hanya empat persen saja. Bagi beberapa tokoh Buddha garis keras,
termasuk Wirathu, hal tersebut jadi ancaman.
Apalagi penduduk muslim kebanyakan kaum pendatang yang cukup
sukses membuka usaha. Berbagai toko kebutuhan sehari-hari dan bisnis-bisnis
penting justru digerakkan oleh umat Islam. Wirathu menganggap hal ini sebagai
ancaman posisi bagi penganut Buddha. Dengan logika 'sederhana', jika semakin
banyak penduduk Buddha membeli barang-barang milik muslim maka semakin makmur
pengikut Nabi Muhammad SAW.
SKUAD 969 berdalih mereka melindungi budaya dan identitas Burma
yang identik dengan Buddha. Mereka rajin menyebar rumor soal biadabnya kaum
muslim dan tuduhan menyesatkan ini membuat banyak media melabeli Wirathu
sebagai 'Buddhist Bin Laden' bahkan TIME juga menulis Wirathu sebagai 'The Face
of Buddhist Terror' atau Wajah Teror Buddha.
Ngeri,
ya. Dan yang lebih mengerikan lagi, pemerintah Myanmar mendukung kampanye
kebencian Wirathu pada kaum muslim. Itulah mengapa hingga detik ini Junta
Militer tak menindak SKUAD 969 dan menangkap biksu radikal itu hingga akhirnya
ratusan kematian terjadi dalam tiga tahun terakhir.
Suku Rohingya yang sebagian besar kaum muslim ikut kena getah
dari kampanye anti-Islam milik Wirathu. Mereka terusir dari Burma dan tidak
lagi mengerti kemana harus pulang. Penderitaan
Suku Rohingya yang Terusir dari Tanah Burma. Sampailah Suku Rohingya di
Indonesia. Sebagai bangsa yang welas asih, kita harus bangga jika bisa membantu
saudara seiman tanpa tendensius apapun dibalik pertolongan tersebut, Paling
tidak Pemerintah Indonesia lebih manusiawi dari Ashin Wirathu (penebar teror).
Sudah
kewajiban sesama saudara muslim saling meringankan beban penderitaan mereka, setidaknya
melalui do’a cukup apabila bantuan financial belum mampu dilakukan. Ibarat
tubuh kita sendiri jika satu sakit maka tubuh lain akan merasakan sakit, serta
memberikan rasa aman dari ketakutan sebab ancaman SKUAD 969 dan hasutan Ashin Wirathu.
Inilah saatnya menunjukkan tanda cinta kita terhadap sesama muslim, turut miris membaca
berita-berita kebiadaban Biksu Ashin Wirathu begitu menuai sorotan dunia, tega membumi hanguskan etnis Muslim Rohingya
hingga harus kehilangan nayawa dan tempat tinggalnya.
Bukan semata-mata
karena keyakinan saja, melainkan kemanusiaan yang harus ditolong. Semoga cara
terbaik bisa menyelesaikan persoalan ini. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar