Senin, 05 Desember 2016

Biksu Wirathu Penebar Teror Etnis Muslim di Rohingya Itu Tuai Sorotan Dunia

sumber gambar: http://www.katariau.com/
"Siapa sangka seorang yang seharusnya mengajarkan kebaikan, kasih sayang serta norma-norma religius kepada pengikutnya, justru menjadi penebar teror, juga otak dari pembantain suku Rohingya. Ashin Wirathu namanya, dia seorang biksu Buddha yang dituding menjadi penyebab pembantaian suku Rohingya hingga akhirnya mereka ramai-ramai eksodus dari Burma hingga sampai Indonesia."

Biksu Wirathu sangat membenci Muslim Rohingya dengan menyebut sebagai “anjing gila.” Lantas melancarkan kampanye provokatif yang menyulut pembantaian, padahal dalam teorinya agama Budha mengajarkan kedamaian dan kasih sayang?. Pria pencetus gerakan anti-Islam 969. Hal itu tidak disebutkan Wirathu secara sembunyi-sembunyi tetapi langsung dikatakannya dalam khutbah yang diliput media internasional, secara terang-terangan ia memproklamirkan diri sebagai musuh Islam.

SKUAD 969 mengacu pada sembilan atribut Buddha, enam ajaran dasar, dan sembilan perintah monastik berkaitan dengan spiritual untuk tingkatan mencapai nirwana. Salah satu tugas mereka menghancurkan kekuatan asing yang ingin membinasakan Buddhisme dan kekuatan asing itu Islam.

Catatan hitam Wirathu mencuat sejak tahun 2001. Waktu itu ia menghasut kaum Budha untuk membenci muslim. Hasilnya, kerusuhan anti-Muslim pecah pada tahun 2003. Wirathu sempat mendekam di penjara. Namun ia dibebaskan tepatnya pada tahun 2010 atas amnesti-amnesti yang juga diberikan untuk ratusan tahanan politik.

Wirathu kini menjabat sebagai kepala di Biara Masoeyein Mandalay. Di kompleks luas itu Wirathu memimpin puluhan biksu dan memiliki pengaruh atas lebih dari 2.500 umat Budha di daerah tersebut. Dari basis kekuatannya itulah Wirathu memimpin gerakan anti-Islam “969”.

Ashin Wirathu menyakini ada konspirasi besar mengubah Burma menjadi negara Islam. Atas dasar inilah dia membentuk kelompok bernama SKUAD 969 yang melancarkan serangan-serangan seporadis pada kaum muslim, termasuk benda-benda kepemilikan mereka bahkan rumah ibadah. Puluhan masjid menjadi puing di tangan SKUAD 969.

Entah sejak kapan Wirathu mendengungkan kampanye. Namun kampanye provokatif itu mulai meluas pada awal 2013. Ia berpidato di berbagai tempat, menyalakan kebencian kaum Budha atas umat muslim. Selain melalui pidato, gerakan 969 juga menyebar dengan cepat melalui stiker, brosur dan sebagainya. Kebencian dan anti-Islam meluas dengan cepat, berbuah pembantaian dan pengusiran Muslim Rohingya.

Ribuan muslim Rohingya dilaporkan terbunuh dalam pembantaian selama beberapa tahun terakhir. Sisanya bertahan hidup dengan keterbatasan dan ketertindasan. Ratusan orang mencoba pergi menyelamatkan diri, hingga pekan lalu sampai di Aceh setelah mengarungi laut lepas dengan kapal sederhana.

Islam memang tumbuh cepat di Myanmar, hingga 2014 sekitar 35 persen penduduk negara ini berpindah keyakinan menjadi muslim. Di tahun sebelumnya hanya empat persen saja. Bagi beberapa tokoh Buddha garis keras, termasuk Wirathu, hal tersebut jadi ancaman.

Apalagi penduduk muslim kebanyakan kaum pendatang yang cukup sukses membuka usaha. Berbagai toko kebutuhan sehari-hari dan bisnis-bisnis penting justru digerakkan oleh umat Islam. Wirathu menganggap hal ini sebagai ancaman posisi bagi penganut Buddha. Dengan logika 'sederhana', jika semakin banyak penduduk Buddha membeli barang-barang milik muslim maka semakin makmur pengikut Nabi Muhammad SAW.

SKUAD 969 berdalih mereka melindungi budaya dan identitas Burma yang identik dengan Buddha. Mereka rajin menyebar rumor soal biadabnya kaum muslim dan tuduhan menyesatkan ini membuat banyak media melabeli Wirathu sebagai 'Buddhist Bin Laden' bahkan TIME juga menulis Wirathu sebagai 'The Face of Buddhist Terror' atau Wajah Teror Buddha.

Ngeri, ya. Dan yang lebih mengerikan lagi, pemerintah Myanmar mendukung kampanye kebencian Wirathu pada kaum muslim. Itulah mengapa hingga detik ini Junta Militer tak menindak SKUAD 969 dan menangkap biksu radikal itu hingga akhirnya ratusan kematian terjadi dalam tiga tahun terakhir.

Suku Rohingya yang sebagian besar kaum muslim ikut kena getah dari kampanye anti-Islam milik Wirathu. Mereka terusir dari Burma dan tidak lagi mengerti kemana harus pulang. Penderitaan Suku Rohingya yang Terusir dari Tanah Burma. Sampailah Suku Rohingya di Indonesia. Sebagai bangsa yang welas asih, kita harus bangga jika bisa membantu saudara seiman tanpa tendensius apapun dibalik pertolongan tersebut, Paling tidak Pemerintah Indonesia lebih manusiawi dari Ashin Wirathu (penebar teror).

Sudah kewajiban sesama saudara muslim saling meringankan beban penderitaan mereka, setidaknya melalui do’a cukup apabila bantuan financial belum mampu dilakukan. Ibarat tubuh kita sendiri jika satu sakit maka tubuh lain akan merasakan sakit, serta memberikan rasa aman dari ketakutan sebab ancaman SKUAD 969 dan hasutan Ashin Wirathu

Inilah saatnya menunjukkan tanda cinta kita terhadap sesama muslim, turut miris membaca berita-berita kebiadaban Biksu Ashin Wirathu begitu menuai sorotan dunia, tega membumi hanguskan etnis Muslim Rohingya hingga harus kehilangan nayawa dan tempat tinggalnya.

Bukan semata-mata karena keyakinan saja, melainkan kemanusiaan yang harus ditolong. Semoga cara terbaik bisa menyelesaikan persoalan ini. Amin.

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar