Senin, 05 Desember 2016

DILEMA TKW DI NEGERI KORUPTOR



TKW asal Indonesia tak ubahnya sapi perah, boleh di bilang tenaga mereka di perah sementara nyawanya tergadai sia-sia.

Masih terngiang di telinga nasib tragis yang menimpa Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal indonesia seperti sumiati dan kawan-kawan, dera mereka di tangan majikan. Mulai dari penyiksaan fisik seperti di gunting bibirnya, di siksa hingga buta permanen, di setrika, di perkosa dan mayatntya pun di buang di tempat pembuangan sampah, sungguh biadab perbuatan tersebut, tidak memiliki rasa prikemanusiaan, prilaku mereka tak ubahnya seperti binatang. Maksud hati mengadu nasib di negeri orang seperti arab Saudi, untuk memperbaiki taraf hidup keluarga dengan taruhan harta, darah dan keringat, bukannya untung malah buntung, bukannya kenikmatan malah penyiksaan yang mereka alami.

Penyiksaan terhadap TKI khususnya TKW sama halnya menginjak-injak harkat dan martabat Indonesia, mereka beranggapan (timur tengah) pemerintahan Indonesia seperti macan ompong, hanya berkoar-koar di kandang sendiri, sementara di luar tak bertaji. Tidak bisa menghidupi bangsa sendiri, padahal negeri Indonesia kaya akan Sumber Daya Alam, tapi miskin Sumber Daya Manusia. Seperti yang di amanahkan UUD 1945 pasal 33 ayat 3 : “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya di kuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Pada pasal 34 “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara.”

Aplikasi di lapangan jauh panggang dari pada api, sebagai bangsa indonesia tentu tidak mengaharapkan hal memalukan seperti itu tidak terulang kembali. Tidak ada salahnya menciptakan lapangan pekerjaan di negeri sendiri, dengan sistem yang baik tanpa budaya kongkalikong atau D3 (dekeng, duit, dulur), tentu akan meminimalisir penyiksaan yang dialami pahlawan devisa tersebut.

Melihat SDM yang tersedia kami yakin pemerintah dapat mewujudkan aspirasi tersebut. Kurangi pengiriman TKI ke luar negeri tanpa memikirkan aspek keselamatan/perlindungan hidup mereka di negeri orang, jika hanya terkesan mencari untung dari derita anak bangsa, apatah lagi yang dikirim SDMnya pas-pasan dan terbelakang tentu hanya akan dijadikan kelinci percobaan sang majikan.

Besar harapan tertuju pada institusi yang berkompoten untuk mengusut tuntas kasus-kasus penganiayaan TKI/TKW di luar negeri hingga ke akar-akarnya, jangan terkesan tebang pilih. Masih adakah keadilan di Negara ini?

Di indonesia banyak diantara pemimpin memberi contoh, tetapi hanya sedikit pejabat yang bisa di contoh. Perilaku korupsi memang sudah menggeliat dimana-mana. Entah, antara pengusaha dan pejabat birokrat yang mempunyai kekuasaan, atau antara warga masyarakat yang bertaraf hidup menengah ke keatas, wajarlah bila orang-orang selalu mendengar kata korupsi. Pantas saja Negara kita merupakan surga bagi para koruptor, memang aneh terdengar tapi nyata. Di lain sisi miris mendengar derita pahlawan devisa di negeri orang, sementara di negeri sendiri keanehan terjadi kehebohan yang luar biasa, seperti kasus Gayus Tambunan yang tambun sebagai mafia pajak begitu istimewa di layani bak raja dengan omset milayaran rupiah hingga mahkamah yang terhormat. Wow !!! sehingga memiskinkan Indonesia leluasa berplesiran ke singapura bersama istri dan anaknya, yang masih hangat di berita liburannya Gayus ke Bali untuk menonton turnamen tenis dengan akomodasi hotel berbintang fasilitas serba nomor wahid, dengan segala trik dan intrik akal bulus gayus dan kroninya dibantu beberapa elit politik begitu hebat berkelit tidak saling mengenal berjamaah membantah.

Politik itu kejam ?
Rekayasa politik dan sebagainya lah, sehingga rakyat dibuat bingung, apa yang sebenarnya terjadi, siapa kawan, siapa lawan, siapa benar siapa salah? Seolah-olah kasus koruptor berjalan di tempat sudah membudaya dianggap biasa, lalu ramai-ramai orang berpendapat begini, begitu, penjual ikan pun tahu, pasti akan reda sendiri, tuntutan usut tuntas koruptor hanyalah angin lalu, ibarat kentut yang bau, terhembus angin dan berlalu sendirinya.

Pelaku korupsi biasanya menyerang segala struktur. Di setiap struktur terdapat interaksi konflik antara koruptor dan mereka yang membenci perilaku korupsi (orang yang lurus). Struktur menampung keduanya, tergantung pada siapa yang mampu menyusupkan kekuasaan lebih besar. Korupsi di tingkat birokrasi rendahan terjadi selain sebagai konsekuensi dari korupsi di tingkat elite, tetapi juga karena gaji PNS yang rendah dan terbukanya peluang di dalam sistem birokrasi yang panjang dan sentralistis. Praktik suap menyuap antara penyelenggara negara dan masyarakat adalah pemandangan sehari-hari yang membentuk moral korupsi sehingga korupsi dirasakan sulit untuk di berantas. Aktor utama korupsi adalah pemerintah dan sektor swasta, dan rakyat banyak menjadi korban utamanya. Ciri manusia indonesia yang menonjol ialah hipokrit, lain di muka, lain di belakang, segan dan enggan bertanggungjawab atas perbuatan, kelakuan, atau pun pikiran serta berjiwa feodal.
Sementara kasus yang menimpa TKI/TKW sumiati cs, diperkirakan akan terulang bagi TKI/TKW lainnya, pasalnya selain kontrak kerja yang lemah terkesan mencari untung dan ini pula disebabkan kurang tegasnya pemerintah, apalagi melawan kerajaan Arab Saudi, apalah daya pemerintahan kita?
Ironis memang, banyak TKI/TKW kita yang dikirim berpendidikan rendah, akibatnya mereka yang berangkat tidak memahami hak-haknya sehingga dengan mudahnya dipermainkan.

Berikut 7 kasus kekerasan terhadap TKW asal Indonesia.
1.       Nirmala Bonat               : Di setrika hingga melepuh, di siram air keras     hingga cacat kulit pemanen.
2.       Siti Hajar                       : Di siksa, di perkosa sang majikan, di pukul martil.
3.       Sumiati                         : Di siksa, di gunting bibir atas, di pukul.
4.       Modesta Rangga Eka    : Di iris telinganya dan di siksa, di pukul.
5.       Hariyatin                       : Di siksa hingga buta permanen, di potong gaji, tidak di beri makan dengan layak.
6.       Muntik                           : Patah tulang belakang, lumpuh.
7.       Kikim Komala Sari         : Di paksa melayani nafsu bejat majikan, di siksa, hingga meninggal dan mayatnya di buang di tempat sampah. (one The Spot Trans7).

Korupsi, kolusi dan Nepotisme (KKN) menjadi beranak pinak ketika otonomi daerah di berlakukan. Memasuki otonami daerah, sentralisasi kekuasaan tidak saja cair, melainkan juga melahirkan raja-raja baru di daerah. Daerah semakin kuat dan perkasa, baik dalam pengaturan keuangan maupun penguasaan aset-aset strategis. Sebab KKN kini hanya ganti “preman” bagi pelakunya. Bahkan pengerukan uang-uang negara justru kian menggila. Kejujuran, keterbukaan, dan menjunjung tinggi etika saat ini menjadi barang langka. Ceramah para ulama, nasehat orang bijak,  peringatan orang tua dianggap aneh. Melakukan tindakan jujur justru dianggap tidak popular serta terasing. Hal tersebut sekarang ini berlaku dalam semua strata kehidupan sosial dan menyebar merata dari sabang hingga merauke. Sementara rakyat kecil yang merupakan bagian terbesar penduduk indonesia terus menerus di paksa menelan kebohongan.

Dan, memang kita menjadi risih mendengar cerita suap menyuap yang semakin subur, dan ini mengingatkan kita untuk kembali kepada agenda reformasi untuk memberantas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme belum seratus persen terwujud.

Siapa menyusul.........

Wallahu a’lamu bish shawaaf.

Biksu Wirathu Penebar Teror Etnis Muslim di Rohingya Itu Tuai Sorotan Dunia

sumber gambar: http://www.katariau.com/
"Siapa sangka seorang yang seharusnya mengajarkan kebaikan, kasih sayang serta norma-norma religius kepada pengikutnya, justru menjadi penebar teror, juga otak dari pembantain suku Rohingya. Ashin Wirathu namanya, dia seorang biksu Buddha yang dituding menjadi penyebab pembantaian suku Rohingya hingga akhirnya mereka ramai-ramai eksodus dari Burma hingga sampai Indonesia."

Biksu Wirathu sangat membenci Muslim Rohingya dengan menyebut sebagai “anjing gila.” Lantas melancarkan kampanye provokatif yang menyulut pembantaian, padahal dalam teorinya agama Budha mengajarkan kedamaian dan kasih sayang?. Pria pencetus gerakan anti-Islam 969. Hal itu tidak disebutkan Wirathu secara sembunyi-sembunyi tetapi langsung dikatakannya dalam khutbah yang diliput media internasional, secara terang-terangan ia memproklamirkan diri sebagai musuh Islam.

SKUAD 969 mengacu pada sembilan atribut Buddha, enam ajaran dasar, dan sembilan perintah monastik berkaitan dengan spiritual untuk tingkatan mencapai nirwana. Salah satu tugas mereka menghancurkan kekuatan asing yang ingin membinasakan Buddhisme dan kekuatan asing itu Islam.

Catatan hitam Wirathu mencuat sejak tahun 2001. Waktu itu ia menghasut kaum Budha untuk membenci muslim. Hasilnya, kerusuhan anti-Muslim pecah pada tahun 2003. Wirathu sempat mendekam di penjara. Namun ia dibebaskan tepatnya pada tahun 2010 atas amnesti-amnesti yang juga diberikan untuk ratusan tahanan politik.

Wirathu kini menjabat sebagai kepala di Biara Masoeyein Mandalay. Di kompleks luas itu Wirathu memimpin puluhan biksu dan memiliki pengaruh atas lebih dari 2.500 umat Budha di daerah tersebut. Dari basis kekuatannya itulah Wirathu memimpin gerakan anti-Islam “969”.

Ashin Wirathu menyakini ada konspirasi besar mengubah Burma menjadi negara Islam. Atas dasar inilah dia membentuk kelompok bernama SKUAD 969 yang melancarkan serangan-serangan seporadis pada kaum muslim, termasuk benda-benda kepemilikan mereka bahkan rumah ibadah. Puluhan masjid menjadi puing di tangan SKUAD 969.

Entah sejak kapan Wirathu mendengungkan kampanye. Namun kampanye provokatif itu mulai meluas pada awal 2013. Ia berpidato di berbagai tempat, menyalakan kebencian kaum Budha atas umat muslim. Selain melalui pidato, gerakan 969 juga menyebar dengan cepat melalui stiker, brosur dan sebagainya. Kebencian dan anti-Islam meluas dengan cepat, berbuah pembantaian dan pengusiran Muslim Rohingya.

Ribuan muslim Rohingya dilaporkan terbunuh dalam pembantaian selama beberapa tahun terakhir. Sisanya bertahan hidup dengan keterbatasan dan ketertindasan. Ratusan orang mencoba pergi menyelamatkan diri, hingga pekan lalu sampai di Aceh setelah mengarungi laut lepas dengan kapal sederhana.

Islam memang tumbuh cepat di Myanmar, hingga 2014 sekitar 35 persen penduduk negara ini berpindah keyakinan menjadi muslim. Di tahun sebelumnya hanya empat persen saja. Bagi beberapa tokoh Buddha garis keras, termasuk Wirathu, hal tersebut jadi ancaman.

Apalagi penduduk muslim kebanyakan kaum pendatang yang cukup sukses membuka usaha. Berbagai toko kebutuhan sehari-hari dan bisnis-bisnis penting justru digerakkan oleh umat Islam. Wirathu menganggap hal ini sebagai ancaman posisi bagi penganut Buddha. Dengan logika 'sederhana', jika semakin banyak penduduk Buddha membeli barang-barang milik muslim maka semakin makmur pengikut Nabi Muhammad SAW.

SKUAD 969 berdalih mereka melindungi budaya dan identitas Burma yang identik dengan Buddha. Mereka rajin menyebar rumor soal biadabnya kaum muslim dan tuduhan menyesatkan ini membuat banyak media melabeli Wirathu sebagai 'Buddhist Bin Laden' bahkan TIME juga menulis Wirathu sebagai 'The Face of Buddhist Terror' atau Wajah Teror Buddha.

Ngeri, ya. Dan yang lebih mengerikan lagi, pemerintah Myanmar mendukung kampanye kebencian Wirathu pada kaum muslim. Itulah mengapa hingga detik ini Junta Militer tak menindak SKUAD 969 dan menangkap biksu radikal itu hingga akhirnya ratusan kematian terjadi dalam tiga tahun terakhir.

Suku Rohingya yang sebagian besar kaum muslim ikut kena getah dari kampanye anti-Islam milik Wirathu. Mereka terusir dari Burma dan tidak lagi mengerti kemana harus pulang. Penderitaan Suku Rohingya yang Terusir dari Tanah Burma. Sampailah Suku Rohingya di Indonesia. Sebagai bangsa yang welas asih, kita harus bangga jika bisa membantu saudara seiman tanpa tendensius apapun dibalik pertolongan tersebut, Paling tidak Pemerintah Indonesia lebih manusiawi dari Ashin Wirathu (penebar teror).

Sudah kewajiban sesama saudara muslim saling meringankan beban penderitaan mereka, setidaknya melalui do’a cukup apabila bantuan financial belum mampu dilakukan. Ibarat tubuh kita sendiri jika satu sakit maka tubuh lain akan merasakan sakit, serta memberikan rasa aman dari ketakutan sebab ancaman SKUAD 969 dan hasutan Ashin Wirathu

Inilah saatnya menunjukkan tanda cinta kita terhadap sesama muslim, turut miris membaca berita-berita kebiadaban Biksu Ashin Wirathu begitu menuai sorotan dunia, tega membumi hanguskan etnis Muslim Rohingya hingga harus kehilangan nayawa dan tempat tinggalnya.

Bukan semata-mata karena keyakinan saja, melainkan kemanusiaan yang harus ditolong. Semoga cara terbaik bisa menyelesaikan persoalan ini. Amin.

 




Rabu, 18 Juli 2012

Rabu, 14 Maret 2012

Dalam budaya cina orang menghindari penggunaan angka 4 untuk nomor rumah dll, karena dianggap angka sial (apes/jawa). sama seperti halnya angka 13 dalam kebudayaan barat.
Di Afganistan angka yang dianggap membawa sial adalah angka 39. belakangan angka tersebut diasosikan sebagai dengan mucikari.  Di inggris orang yang lahirnya pada tgl 23 malah di anggap membawa berkah karena di percaya mengetahui sebelum peristiwa yang akan datang. Syah-syah saja manusia memberi mitos tentang angka, tapi segala kejadian yang ada di muka bumi ini kita serahkan kepada Alloh SWT. Tuhan Sang Maha Kehendak

Jumat, 09 Maret 2012

Yayasan Epilepsi Indonesia (YEI): Dokter Epilepsi

Yayasan Epilepsi Indonesia (YEI): Dokter Epilepsi: JAKARTA 1. Dr. Irawaty Hawari, SpS Praktek : - Perum Tebet Mas Indah Blok E No. 5 (Jl. Tebet Barat I) Telp. 021.829.9857 Perjanjian di...