Robbi habli minas sholihin, putra soleh kebanggaan Ny. Siami (32), Alifah Ahmad Maulana (13) dengan berani mengungkap ketidak jujuran yang terjadi di sekolah, dengan resiko diusir oleh warga sekitar dari kampung dan rumahnya sendiri.
Guru (digugu lan ditiru=didengar dan diikuti), tapi kali ini oknum guru meminta anak muridnya untuk memberikan contekan kepada teman-temannya saat ujian nasional lalu, untung perintah salah-kaprah tersebut tidak dituruti oleh Alifah Ahmad Maulana, sesuai namanya Alifah Ahmad Maulana merupakan awalan huruf hijaiyah, bentuknya berdiri tegak lurus tidak goyah memegang perinsip, jika ada oknum guru yang memerintahkan muridnya untuk menyontek massal, perlu di pertanyakan kredibilitasnya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Sekolah semestinya bukan hanya sekedar tempat mentransfer ilmu serta mengejar target tingkat kelulusan siswa. Lebih penting dari itu, mendidik moral dan karakter cikal bakal tunas bangsa terutama soal kejujuran di negeri ini. Kita harusnya bangga ditengah-tengah gurita koruptor masih ada sang pendobrak kecurangan dari desa gadel surabaya, tanpa pamrih melawan kemunkaran, diantara ke dzaliman penguasa dan arogansi pendekar-pendekar hukum bergelimang kemewahan. Ibu Siami dan anaknya tidak melarikan diri atau ngumpet dari buruan polisi dan KPK tapi tersingkirkan dari tetangganya yang dianggap berlebihan. Hati nuraninya tergerak merindukan tegaknya kejujuran dalam dunia pendidikan, tidak terima anak-anak, termasuk putranya di tingkat SD diminta mencontek.
Jika kebohongan sudah mendarah daging maka kejujuran tiada arti, dimana contek massal sudah mewabah hingga pelosok desa, hal ini mengindikasikan pendidikan moral di negeri tercinta ini masih jauh dari harapan, nafsu kecurangan menjadi panglima, kejujuran di hujat, dengan melibatkan anak SD untuk melakukan contek massal dalam ujian nasional, namun yakinlah kejujuran akan selalu ada meski tidak nampak, kebenaran memang membutuhkan keberanian, berhati baja untuk mendobrak kesemrawutan negeri ini, dibutuhkan tangan besi untuk membasmi kemungkaran tersebut.
Korupsi adalah kanker kronis menggerus harapan dan kepercayaan, kemungkinan bahwa di sekitar kita masih ada orang yang bersih. Kita tidak malu melihat kegetiran ini karena malu itu milik orang dewasa, sedangkan kita sekali lagi, belum pernah terlihat dewasa dimata seorang anak SDN Gadel 2, Tandes Surabaya bernama Alifah Ahmad Maulana (13).
Korupsi adalah penyimpangan yang berakar dari watak koruptif manusia yang tidak terkendali, berhasrat akan kekayaan dan kekuasaan yang menghalalkan segala cara dan otoritas yang tidak transparan. Kita tahu korupsi bukan cuma efek samping dari ketidak jelasan aturan birokrasi kita, juga bukan sekedar karena ada kesempatan. Hasrat menjadi terpandang, karena berkuasa dan kaya raya yang kita sahkan sebagai orientasi cultural yang penting itu, sejak dini sudah membawa bibit terpendam untuk korup. Jika orang-orang yang korup menguasai pemerintahan dalam bentuk struktur bagaimana pun, struktur tersebut akan tercemar, hal ini karena kebusukan sistemik.
Logikanya ibu Siami (32) mendapat dukungan karena memperjuangkan tegaknya kejujuran, kondisi yang saat ini jadi barang mewah untuk Indonesia, sebaliknya tetangganya justru membela ketidak jujuran. Kita perlu belajar banyak dalam lautan lumpur kebohongan dan Negara yang kleptokratis, muncul kejujuran kecil. Perbaikan perlu dilakukan dan disertai praksis pendidikan yang tidak hanya mengejar lembaran ijasah.
Engkau bagai lilin rela hancur demi menerangi kegelapan. Engkau pula yang telah menyentil kami tentang kejujuran yang mulai pudar. Mari budayakan hidup jujur sejak usia dini, agar anak-anak kita kelak tidak korup.
Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi……..